CAHAYA KECIL DIPADAMKAN
Halo semuanya, apa kabar
? aku berharap kalian sehat wal’afiat dan menjalani aktivitas dengan semangat
biar kitab bisa hidup pada hari-hari berikutnya. Perkenalkan nama aku Muhamad
Putra Arafah, akrab di panggil Arafah, tulisan ini dibuat atas kegelisahan aku
sendiri, aku hanya membagikan sedikit phrasa kepada kalian, kalau kalian tidak
suka, dilewati saja karena isinya mungkin tidak relevan dengan kalian, aku
paham itu.
Jadi, pada malam ini, tepatnya pada malam minggu, suasana
hari diluar yang sejuk seperti menerpa diri merasuk ke pori-pori kecil pada
tubuh kita dan seperti air akan turun dari langit. Tidak berselang lama,
sebelum aku beranjak dari rumah setelah menunaikan ibadah Salat Maghrib, aku
mendengarkan rintikan tetesan air dari atap rumahku yang terdengar masih suara
halus hingga aku tidak terlalu menyadarinya jika tidak mendengarnya secara
seksama. Aku pun tetap bersiap pergi, ke salah satu tempat yang aku inginkan,
cukup jauh jaraknya dari rumah tetapi tetap tujuan aku kesana dan tidak ada
akan beralih ke yang lain. Sebelum berangkat malahan sebelum ibadah maghrib,
aku menanyakan seseorang untuk ikut bersamaku lewat platform chat. Awalnya
seperti biasa menanyakan basa-basi, setelah menunggu respon kurang lebih 20
menit, respon yang aku dapat adalah penolakan yang halus, karena dia sedang
tidak enak badan. Aku merespon nya dengan mengiyakan dan memberi kata doa atas
kesembuhan, aku pun tidak terlalu memikirkan-nya. Karena sebelum itu aku sudah
memperkirakan hal yang terburuknya yaitu penolakan atau apapun itu, jadi aku
gak terlalu kaget. Lanjut aku menuju ke garasi, mengambil kunci motor dan
menghidupkan nya. Lalu aku berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan, mulailah
aku melakukan perjalanan. Selama perjalanan aku disambut angin yang sejuk, air
yang rintik kecil sekali, ramai nya kendaraan roda empat dan roda dua sangat
memadati jalan kiri dan kanan. Suasananya seperti seakan-akan ini cocok untukmu
malam ini, setelah melakukan perjalanan kurang lebih 25 menit, sesampainya aku
di tempat lokasi, pas di parkiran melihat sekitar keadaan cukup ramai. Aku
turun dari motor dan masuk ke dalam, ada yang lagi menyantap makanan bersama
keluarga, teman, pacar dan ada juga yang belanja kebutuhan. Pertama aku mencari
rak yang berisikan mie siap saji, ternyata berada di ujung, karena aku ingin
menikmati mie pada malam ini, lalu mencari makanan dan minuman lainnya. Setelah
selesai mencari, akupun ke meja kasir untuk membayarnya, di tempat ini kita
self service ya, cari, bayar, baru persiapkan sendiri. Cocok lah untuk
seseorang seperti ku. Selepas membayar, aku mencoba mencari lokasi tempat duduk
yang aku ingin, aku melihat keluar, ada bangku kosong di sudut tetapi aku tidak
menginginkan nya, aku mencari lagi di dalam, dan ketemu diantara 2 tiang cukup
berada di tengah dan dekat dengan kasir.
Bermula dari sini cahaya kecil yang dipadamkan, aku
meletakkan makanan dan minuman ku di meja, mencoba menyiapkan semua, tidak
berselang lama aku mendapatkan sebuah notif dari seseorang tersebut dan dia
bilang bahwa dia jadi ke tempat yang aku sekarang tetapi bersama “TEMAN”. Aku
merespon dengan singkat, okeh. Aku menghiraukannya, lalu membuka mie dan
memasukkan semua bumbu yang ada, beranjak dari kursi aku meninggalkan sebuah
buku, supaya orang tahu bahwa ada seseorang yang duduk disana, aku menuju ke
tempat adanya air panas, setelah airnya cukup aku kembali lagi menuju kursiku
dan dipertengahan jalan aku berpapasan dengan orang itu dan dia menyapa diriku
aku langsung membalas nya dan lewat saja. Aku meletakkan makanannya lagi di
atas meja dan aku tutup menggunakan sendok dan garpu, supaya mie nya panas
merata, selama menunggu aku membuka cemilan yang lain, dan seperti hening saja
tidak bisa berkata apa-apa lagi, sambil mulut mengunyah cemilan. Aku berpikir
“Kenapa ya ?”
Sambil merenungkan tidak cukup lama, aku membuang nafas
dan yaudah lah ya. Aku menyamtapi makanan sampai habis, setelah kurang lebih 15
menit, sampai perutku merasa sudah cukup. Ada beberapa cemilan terakhir tidak
aku habiskan, aku masukkan lagi dalam plastic untuk di bawa pulang, aku
membereskan sisa plastic membuang nya ketempat sampah. Aku mencoba untuk
membaca buku, tidak banyak sekitar 3-5 halaman, lanjut ke buku untuk menulis
dan inilah tulisan itu terjadi, aku menuangkan isi pikiran tadi ke dalam buku,
sekitar 45 menitan aku tulis tanpa aku sadari.
Aku tahu dan aku paham, aku telah melihatnya dia dating
bersama “Teman”, kalian bisa menilainya sendiri. Tapi yang aku pertanyakan,
kenapa aku diberikan perasaan seperti ini dan kenapa terlalu memikirkan-nya,
apa karena hanya aku sanggup melewati-nya dan melakukan-nya aku tidak tahu dan
tidak mengerti. Tetapi setelah mendapati hal ini, aku belajar bahwa aku memang tidak sepenting itu
di kehidupan orang lain, karena bukan aku satu-satunya yang ada, aku punya
diriku sendiri. Dia yang memberitahu ku akan hal itu. Menanggapi semua ini,
rasanya lelah di buat oleh diri sendiri, bersikap rasional saja kedepan-nya,
dan harus bersiap hal yang buruk terjadi, seharusnya terima saja dan jadikan
pelajaran. Tapi menurutku karena kita manusia di akal dan hati, pasti ada saja
terbesit “wah, lelah dan sakit ya”. Aku mengerti dan mencoba memperbaiki lagi.
Keinginan aku hanyalah sebuah peduli, memperbaiki lagi, dan tidak adan berniat
hal yang jahat ataupun buruk lagi,
Untuk kalian para pembaca curhatan kecilku ini, terima
kasih telah membacanya, aku tidak bermasalah jika tulisan ini di baca oleh
kalian, karena aku bukan haus akan validasi atau apapun itu. Kalian semua
sehat-sehat, cobalah untuk jadi lebih baik lagi walau hanya sekecil butir
pasir, bersikaplah rasional dan jangan mengharapkan yang berlebihan, karena
semua akan menerima masanya masing-masing.
Terima Kasih :)
Best Regards
Muhamad Putra Arafah

Komentar
Posting Komentar